Selasa, 03 November 2009

Bibit-Chandra Bebas, Anggodo Kembali Diperiksa, Aksi Mogok Makan Berlanjut




     Kapolri Jendral Pol Bambang Hendarman Danuri (BHD) telah menyetujui penangguhan penahanan Bibit-Chandra. Malam ini juga kedua pimpinan KPK nonaktif tersebut akan keluar dari bui.
       Tim dari Mabes Polri sudah menjemput Bibit dan Chandra dari Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua Depok. Saat ini ini Tim Pencari Fakta (TPF) dan kuasa hukum meluncur ke Mabes Polri untuk menjemput Bibit dan Chadra.
     "Kapolri menyetujui,  malam ini juga dibebaskan," ujar anggota TPF Amir Syamsudin kepada wartawan di Jakarta, Selasa (3/11/2009) malam.

         Selain mengajukan permohonan penangguhan Bibit-Chandra, TPF juga meminta Kapolri BHD menonaktifkan Kabareskrim Susno Duadji. "Selain penangguhan, kami juga meminta Kabareskrim dinonaktifkan," ungkapnya.

"Mudah-mudahan dalam waktu satu jam lagi Bibit dan Chandra sampai di sini, karena sedang kemas-kemas tadi Kapolri sudah mengatakan penahanan mereka ditangguhkan," ujar anggota Tim Pencari Fakta (TPF) Todung Mulya Lubis yang datang ke Mabes Polri, Selasa (13/11/2009).
     Todung berharap penangguhan penahanan terhadap Bibit dan Chandra membawa langkah positif dalam penyelesaian perkara ini secara adil. "Mudah-mudahan ini adalah langkah positif dan mudah-mudahan bagus dalam proses penyelesaian perkara ini secara independen," kata dia.
            Isi rekaman telah dibeberkan di sidang Mahkamah Konstitusi (MK). Jika memang Presiden SBY cepat tanggap dan konsisten berada di barisan terdepan dalam pemberantasan korupsi, seharusnya bisa memerintahkan Kapolri menonaktifkan Komjen Pol Susno Duadji dan Jaksa Agung menonaktifkan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga.



          Pendapat ini disampaikan Bivitri Susanti, peneliti pada PSHK (Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia) dan kandidat PhD pada University of Washington School of Law, Seattle, Selasa (3/11/2009).
"Meski Ketua TPF sudah mengatakan mereka akan memanggil nama-nama yang disebut dalam rekaman, menurut saya, Presiden seharusnya bisa memerintahkan Jaksa Agung untuk menonaktifkan Ritonga dan Kapolri untuk menonaktifkan Susno," kata Bivitri.
      Menurut Bivitri, Presiden SBY tidak bisa lagi berlindung di balik 'tidak mau intervensi penegakan hukum', karena dengan melakukan ini justru mendukung penegakan hukum dengan membuka ruang seluas-luasnya untuk pendalaman kasus. Lagipula dengan begitu, SBY mendukung kerja TPF yang dibentuknya sendiri.
"Hendarman  (Jaksa Agung) dan Bambang Hendarso Danuri (Kapolri) harus menuruti perintah SBY. Karena ini bukan intervensi proses hukum melainkan perintah tentang struktur organisasi. Ingat, secara ketatanegaraan Polri dan Kejaksaan, ada di bawah presiden," jelas dia.



Anggodo Diperiksa
     Dilain pihak, Mabes Polri merasa tertampar dengan fakta rekaman penyadapan ponsel Anggodo yang diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi, tadi siang. Anggodo pun kini diperiksa di Mabes Polri.


         Mengenai rekaman pembicaraan Anggodo yang diduga merupakan bukti adanya rekayasa terhadap pimpinan KPK, penyidik, kata Nanan, akan mengonfirmasi dan memeriksa 1x24 jam secara maraton terhadap Anggodo. "Penyidik akan mengonfirmasi dan meminta keterangan dan memeriksa 1x24 jam secara maraton. Yang jelas dengan mendengar 4,5 jam (rekaman Anggodo), apabila itu benar, maka itu sangat menyinggung institusi kepolisian, Kejaksaan, KPK," kata Kadiv Humas Mabes Porl Irjen Pol Nanan Sukarna dalam jumpa pers di Mabes Polri Jalan Trunojoyo, Jakarta, Selasa (13/11/2009).
    Nanan juga mengatakan, Polri akan menindak oknum Polri yang terbukti terlibat, seperti yang ada dalam rekaman."Apabila ada oknum yang terlibat akan ditindak," kata Nanan.



Mogok makan berlanjut
      Sementara itu, merasa telah berhasil mengeluarkan 2 pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah dari tahanan Mabes Polri, Plt KPK Tumpak Hatorangan Panggabean menyerukan kepada para mahasiswa untuk menghentikan aksi mogok makannya.


Tetapi seruan Tumpak ini tidak digubris mahasiswa karena mereka ingin pemberantasan korupsi yang lebih besar tetap diusut KPK. Salah satunya para mahasiswa menuntut pengusustan skandal Bank Century.
    "Kami sangat  berterima kasih dan terharu dengan aksi spontanitas yang Anda lakukan 2 hari ini. Saya perlu beritahukan, sebagian dari perjuangan Anda itu telah berhasil," kata Tumpak di depan kantor KPK Jl HR Rasuan Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (3/11/2009).
      "Dari informasi yang kami terima, rekan kami Candra dan Bibit sudah ditangguhkan penahanannya. Oleh karena itu, harapan kami Anda semua tidak melakukan mogok makan seperti yang telah dilakukan karena akan mengganggu kesehatan kamu semua," pinta Tumpak.
    Tumpak menilai perjuangan masih panjang, karena itu para mahasiswa diminta mengehentikan aksi mogok makannya. Hal ini sangat penting agar dengan kesehatan mahasiswa yang fit dapat melanjutkan perjuangan yang lebih baik.  "Saya meghendaki agar kamu semua menghentikan aksi spontanitas kalian, karena perjuangan kita masih panjang. Jangan samapai nanti temen-teman mahasiswa jadi sakit," pintanya.
     Menangapi permintaan itu, 14 mahasiswa yang sedang mogok makan di depan Gedung KPK bergeming. Mereka tetap akan melanjutkan aksinya sampai pemberantasan korupsi dilakukan tanpa pandang bulu termasuk kepada kasus besar yang diduga melibatkan Wapres Budiono.
"Aksi ini bukan hanya untuk Bibit dan Chandra. Tapi untuk melawan korupsi yang lebih besar. Perjuangan ini kita lakukan hingga kasus Bank Century diusut," kata salah satu peserta mogok makan dari UIN Jakarta.

Sumber: dari berbagai sumber

WONG FEI HUNG ternyata Ulama dan Pendekar sekaligus Tabib


Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin. (kaskus.us)



Minggu, 01 November 2009

Penyanyi Rap Wanita Asal Perancis Menjadi Mualaf




Penyanyi Rap muda Perancis "Diam" telah memeluk Islam. Ia menjelaskan ke media Perancis "Obat-obatan tidak mampu menyembuhkan jiwaku, jadi aku berpindah agama".

Diam telah mendapat sorotan media pada saat ia mengenakan pakaian hitam dan menggunakan hijab sejak ia masuk Islam dan menikah dengan seorang pria Muslim.

Diam, yang mempunyai nama asli Melanie Georgiades, lahir pada 25 Juli 1980 di Cyprus, wanita ini merupakan artis penyanyi rap Perancis, ia juga keturunan Yunani Cypriot. Keluarganya pindah ke Essonne (dekat Paris) pada 1984.

Diam pernah memenangkan beberapa penghargaan dalam dunia musik. Penggemarnya yang juga cukup banyak sangat terkejut dengan kabar pindah agamanya ini, padahal direncanakan Diam akan merilis album barunya pada bulan November.

Diam mengatakan semua keuntungan dari album barunya ini akan didonasikan kepada organisasi kemanusiaan dan ia mengatakan mulai saat ini dirinya tidak akan meninggalkan rumah tanpa rambut tertutup.
(muslimdaily.net)

Muallaf enggan keluar rumah tanpa jilbab ?! Bagaimana dengan muslimah yang sejak lahir. Tidak malukah kalian....?!