Sabtu, 05 Februari 2011

ABDULLAH IBNU MAS'UD

Awal Keislamannya
Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumah Arqam, Abdullah bin Mas’ud telah beriman kepadanya dan merupakan orang keenam yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pertemuannya yang mula-mula dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu diceritakannya sebagai berikut:
“Ketika itu saya masih remaja, menggembalakan kambing kepunyaan Uqbah bin Mu’aith. Tiba-tiba datang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan bertanya: “Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami?" "Aku orang kepercayaan” ujarku’: “dan tak dapat memberi anda berdua minuman …!” Maka sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah kamu punya kambing betina mandul, yang belum dikawini oleh salah seekor jantan”? 'ada' : ujarku. Lalu saya bawa ia kepada mereka. Kambing itu diikat kakinya oleh Nabi lalu disapu susunya sambil memohon kepada Allah. Tiba-tiba susu itu berair banyak …. Kemudian Abu Bakar mengambilkan sebuah batu cembung yang digunakan Nabi untuk menampung perahan susu. Lalu Abu Bakar pun minum lah, dan saya pun tidak ketinggalan …. Setelah itu Nabi menitahkan kepada susu: “Kempislah!’: maka susu tu menjadi kempis….
Setelah peristiwa itu saya datang menjumpai Nabi, kataku: “Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebutl”
Ujar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar!”

Akhirnya cahaya hidayah masuk ke dalam dada Ibnu Mas’ud sehingga ia segera mengembalikan gembalanya kepada pemiliknya dan bergegas menuju Mekkah guna mencari seseorang yang dijumpainya beserta sahabatnya hingga ia menemukannya, dan mengetahui bahwa orang yang dijumpainya adalah seorang Nabi utusan Allah, maka iapun mengikrarkan keislamannya dihadapan Nabi, dan termasuk orang keenam dari enam orang pertama yang masuk Islam.

Orang Pertama yang Membacakan Ayat-Ayat Al-Qur'an dengan Keras dihadapan Orang Quraisy
Pada suatu hari saat para sahabat berkumpul bersama nabi, mereka berkata : “Demi Allah, orang Quraisy nampaknya belum pernah sama sekali mendengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan dengan terang-terangan (keras), adakah seseorang yang ingin melakukannya ? maka Abdullahpun langsung berdiri dan berkata : Saya. Merekapun berkata : 'Sungguh kami khawatir akan Engkau, namun yang Kami inginkan adalah seseorang yang memiliki keluarga yang dapat membantu dan melindungi dari siksa dan cemoohan orang-orang musyrikin'. Dia berkata : 'biarkanlah saya melakukannya! Karena Allah yang akan melindungiku'. Kemudian dia pergi ke Ka’bah yaitu disaat waktu dhuha, lalu duduk dan mengangkat suaranya dengan lantang, dan membaca Al-Quran dengan lancar :
Bismillahirrahmanirrahim ….
Allah Yang Maha Rahman ….
Yang telah mengajarkan al-Quran ….
Menciptakan insan ….
Dan menyampaikan padanya penjelasan ….
Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan ….
Sedang bintang dan kayu-kayuan sama sujud kepada Tuhan….

Lalu dilanjutkannya bacaannya, sementara pemuka-pemuka Quraisy sama terpesona, tidak percaya akan pandangan mata dan pendengaran telinga mereka …. dan tak tergambar dalam fikiran mereka, bahwa orang yang menantang kekuasaan dan kesombongan mereka …, tidak lebih dari seorang upahan di antara mereka, dan penggembala kambing dari salah seorang bangsawan Quraisy …. yaitu Abdullah bin Mas’ud, seorang miskin yang hina dina …. !
Mereka memperhatikannya sambil bertanya sesamanya:
“Apa yang dibaca oleh anak si Ummu ‘Abdin itu … .
Sungguh, yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad”
Mereka bangkit mendatangi dan memukulinya, sedang Ibnu Mas’ud meneruskan bacaannya sampai batas yang dihehendaki Allah .Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak-belur ia kembali hepada para shahabat. Kata mereka:
“Inilah yang kami khawatirkan terhadap dirimu ….!”
Ujar Ibnu Mas’ud “Sekarang ini tak ada yang lebih mudah bagiku dari menghadapi musuh-musuh Allah itu! Dan seandainya tuan-tuan menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat hal yang sama esok hari ”
Ujar mereka: “Cukuplah demikian! Kamu telah membacakan kepada mereka barang yang menjadi tabu bagi mereka!”

Cerdas dalam Hafalan - Qiraah Al-Qur'an
Ibnu Mas’ud juga merupakan sahabat yang paling cerdas dalam hafalan –Qiraah- Al-Quran, dan memiliki suara yang merdu. Karena itulah Rasulullah saw pernah bersabda : “Mintalah kalian akan bacaan Al-Quran pada empat sahabat : Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal”. (HR. Al-Bukhari). Beliau juga bersabda : “Bagi siapa yang suka membaca Al-Quran dengan benar sesuai dengan yang diturunkan, maka hendaknya mengikuti bacaan Ibnu Ummi Abdin”. (HR. Al-Bazzar).

Mengenai dirinya ia pernah mengatakan:
“Saya telah menampung 70 surat alquran yang kudengar langsung dari RasululIah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiada seorang pun yang menyaingiku dalam hal ini….”
Dan rupanya Allah swt. memberinya anugerah atas keberaniannya mempertaruhkan nyawa dalam mengumandangkan alQuran secara terang-terangan dan menyebarluaskannya di segenap pelosok kota Mekah di saat siksaan dan penindasan merajalela, maka dianugerahi-Nya bakat istimewa dalam membawakan bacaan al-Quran dan kemampuan luar biasa dalam memahami arti dan maksudnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi washiat kepada para shahabat agar mengambil Ibnu Mas’ud sebagai teladan, sabdanya:
“Berpegang-teguhlah kepada ilmu yang diberikan oleh Ibnu Ummi ‘Abdin ….!”
Diwashiatkannya pula agar mencontoh bacaannya, dan mempelajari cara membaca al-Quran daripadanya. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barangsiapa yang ingin hendak mendengar al-quran tepat seperti diturunkan, hendaklah ia mendengarkannya dari Ibnu Ummi Abdin …!
Barangsiapa yang ingin hendak membaca al-quran tepat seperti diturunkan, hendaklah ia membacanya seperti bacaan Ibnu Ummi Abdin …!”

Sungguh, telah lama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyenangi bacaan al-Quran dari mulut Ibnu Mas’ud …. Pada suatu hari ia memanggilnya sabdanya:
“Bacakanlah kepadaku, hai Abdullah!”
“Haruskah aku membacakannya pada anda, wahai Rasulullah..?”
Jawab Rasulullah: “Saya ingin mendengarnya dari mulut orang lain”
Maka Ibnu Mas’ud pun membacanya dimulai dari surat an-Nisa hingga sampai pada firman Allah Ta’ala:
Maka betapa jadinya bila Kami jadikan dari setiap ummat itu seorang saksi, sedangkan kamu Kami jadikan sebagai saksi bagi mereka … .!
Ketika orang-orang kafir yang mendurhakai Rasul sama berharap kiranya mereka disamaratakan dengan bumi … .! dan mereka tidak dapat merahasiakan pembicaraan dengan Allah ….!” (QS 4 an-Nisa: 41 — 42)
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tak dapat manahan tangisnya, air matanya meleleh dan dengan tangannya diisyaratkan kepada Ibnu Mas’ud yang maksudnya: “Cukup …,cukuplah sudah, hai lbnu Mas’ud …!”

Suatu ketika pernah pula Ibnu Mas’ud menyebut-nyebut karunia Allah kepadanya, katanya:
‘”Tidak suatu pun dari al-quran itu yang diturunkan, kecuali aku mengetahui mengenai peristiwa apa diturunkannya.
Dan tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku. Dan sekiranya aku tahu ada seseorang yang dapat dicapai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang Kitabullah daripadaku, pastilah aku akan menemuinya. Tetapi aku bukanlah yang terbaik di antaramu!”
Keistimewaan Ibnu Mas’ud ini telah diakui oleh para shahabat. Amirul Mu’minin Umar berkata mengenai dirinya:
“Sungguh ilmunya tentang fiqih berlimpah-Iimpah’:
Dan berkata Abu Musa ai-Asy’ari:
“Jangan tanyakan kepada kami sesuatu masalah, selama kiyai ini berada di antara tuan-tuan.’”

Dan bukan hanya keunggulannya dalam al-Quran dan ilmu fiqih saja yang patut beroleh pujian, tetapi juga keunggulannya dalam keshalihan dan ketaqwaan.
Berkata Hudzaifah tentang dirinya:
“Tidaki seorang pun saya lihat yang lebih mirip kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam cara hidup, perilaku dan ketenangan jiwanya, daripada Ibnu Mas’ud….
Dan orang-orang yang dikenal dari shahabat-shahabat Rasulullah sama mengetahui bahwa putera dari Ummi ‘Abdin adalah yang paling dekat kepada Allah ….!”

Ibnu Mas'ud tak hendak berpisah dari Rasulullah saw baik diwaktu bermukim maupun diwaktu bepergian. Ia telah turut mengambil bagian dalam setiap peperangan dan pertempuran. Dan peranannya dalam perang Badar meninggalkan kenangan yang tak dapat dilupakan, yakni rubuhnya Abu Jahal oleh tebasan pedang kaum muslimin pada hari yang keramat itu.

Abdullah bin Mas’ud adalah orang yang ‘alim dan bijaksana. Diantara ungkapannya yang terkenal adalah : “Wahai sekalian manusia, hendaklah kalian taat dan selalu berada dalam jamaah, karena yang demikian adalah tali Allah yang telah diperintahkan, dan sesungguhnya sesuatu yang kalian tidak sukai dalam berjamaah lebih baik daripada sesuatu yang kalian cintai dalam berpecah belah”.

Dan diantara kata-katanya yang bersayap ialah :
"Sebaik-baik kaya, ialah kaya hati;
Sebaik-baik bekal, ialah taqwa;
Seburuk-buruk buta, ialah buta hati;
Sebesar-besar dosa, ialah berdusta;
Seburuk-buruk usaha, ialah memungut riba;
Seburuk-buruk makanan, ialah memakan harta anak yatim;
Siapa yang memaafkan orang, akan dimaafkan Allah;
Dan siapa yang mengampuni orang akan diampuni Allah......."

Kedua Betisnya Lebih Berat Timbangannya dari Gunung Uhud
Ibnu Mas'ud, adalah laki-laki yang ukuran tubuhnya seumpama tubuh burung Merpati...., kurus dan pendek, hingga tinggi badannya tidak akan berapa bedanya dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan kempes, yang tampak ketika ia memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan sikat Rasulullah saw. Para sahabat sama mentertawakannya ketika melihat kedua betisnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah saw:
"Tuan-tuan mentertawakan betis Ibnu Mas'ud......, keduanya disisi Allah lebih berat timbangannya dari gunung Uhud..."

Penutup
Inilah dia, orang yang berasal dari keluarga miskin, buruh upahan, kurus, hina, tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya salah seorang imam diantara imam-imam kebaikan, petunjuk, dan cahaya ...
Dan sebagai anda ketahui, ia tak pernah mencari kesempatan untuk mendapatkan sesuatu yang dikejar-kejar dan diperebutkan orang, berupa kemuliaan, kekayaan, pengaruh, dan jabatan ...

Hal ini semata-mata karena cita-citanya adalah cita-cita seorang tokoh yang berhati mulia, berjiwa besar dan berkeyakinan teguh .... seorang tokoh yang mendapat petunjuk dari Allah, memperoleh tuntunan dari Al-Qur'an, dan menerima didikan dari Rasulullah saw ....!


Wallahu 'alam bissowaf ...

Aku di UHUD !!!

Rabu, 05 Januari 2011

ZUBAIR BIN AWWAM (Pembela Rasulullah)

        ZUBAIR termasuk dalam rombongan pertama yang masuk Islam, karena ia adalah dari golongan tujuh orang yang mula-mula menyatakan ke Islamannya, dan sebagai perintis telah memainkan perannya yang penuh berkah di rumah Arqam.. Usianya waktu itu baru limabelas tahun. Ia adalah seorang penunggang kuda dan berani sejak kecilnya .... hingga ahli ssejarah menyebutkan bahwa "pedang pertama yang dihunuskan untuk membela ISLAM adalah ZUBAIR bin AWWAM.
        Pada hari-hari pertama Islam, saat kaum Muslimin masih sedikit sekali, tiba-tiba pada suatu hari tersebar berita bahwa Rasul terbunuh. Seketika itu, tiada lain tindakan Zubair kecuali menghunus pedang dan mengacungkannya, lalu ia berjalan di jalan-jalan kota Mekkah laksana tiupan angin kencang, padahal ia masih muda belia.... Ia pergi meneliti berita tersebut..dengan tekad, seandainya berita itu ternyata benar, niscaya pedangnya akan menebas semua pundak orang-orang Quraisy, sehingga ia mengalahkan mereka, atau mereka menewaskannya ...
      Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang dalam kaumnya, namun tak kurang ia menanggung azab derita dan penyiksaan Quraisy. Dan yang memimpin penyiksaan itu adalah pamannya sendiri. Pernah ia disekap di suatu kurungan, kemudian dipenuhi dengan embusan asap api agar sesak napasnya, lalu pamannya berkata :"Tolaklah olehmu Tuhan Muhammad itu, nanti kulepadkan kamu dari siksa ini !" Tantangan itu dijawab oleh Zubair dengan pedas dan mengejutkan : "Tidak .... demi Allah, aku tak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya !" Subhanallah, padahal waktu itu ia belum menjadi pemuda taruna, masih belia bertulang lembut ...
       Zubair tak pernah ketinggalan dalam setiap peperangan dan pertempuran, hingga terdapat bekas-bekas luka hampir pada segenap tubuhnya. Ketika perang Uhud usai, bersama Abu Bakar, Zubair di utus Rasul untuk mengikuti gerakan tentara Quraisy, hingga mereka lari dan tidak kembali lagi ke Madinah. Pada perang Hunain, secara tiba-tiba Zubair seorang diri menyerbu rombongan suku Hawazin yang dipimpin oleh panglimanya Malik bin Auf. Dan dikucar-kacirkannya kesatuan mereka, kemudian dihalaunya mereka dari tempat persembunyian yang mereka gunakan untuk penyergap pemimpin-pemimpin Islam yang baru kembali dari arena perang.
        Zubair telah berhasil mengurus perniagaannya dengan gemilang, kekayaannya melimpah, tetapi semua itu dibelanjakannya untuk membela Islam, sehingga ia sendiri mati dalm berhutang. Diwasiatkannya kepada anaknya Abdullah untuk melunasi utang-utangnya, demikian pesannya :
"Bila aku tak mampu membayar utang, minta tolonglah kepada Maulana - induk semang kita-".
Lalu ditanya anaknya Abdullah: "Maulana yang mana bapak maksudkan...?" Maka jawabnya: "Yaitu Allah ... Induk semang dan penolong kita yang paling utama...!"
Kata Abdullah kemudian: "Maka demi Allah,  setiap aku terjatuh kedalam kesukaran karena utangnya, tetap aku memohon : "Wahai Induk Semang Zubair, lunasilah utangnya, maka Allah mengabulkan permohonan itu, dan alhamdulillah hutang pun dapat dilunasi."
        Zubair menjemput kematiannya saat beliau mengundurkan diri dari peristiwa "Waq'atul Jammal". Ia diikuti seorang laki-laki bernama Amru bin Jarmuz yang membunuhnya dikala ia sedang lengah, yakni sewaktu ia sedang shalat, menghadap Tuhannya...!
        Imam Ali berteriak demi mengetahui ada pembunuh Zubair yang minta izin untuk masuk ke rumahnya, katanya: "Sampaikan berita kepada pembunuh putera ibu Syafiah itu, bahwa untuknya telah disediakan api neraka...!" Dan ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali oleh beberapa sahabatnya, ia mencium dan lama sekali ia menangis kemudian katanya: "Demi Allah, pedang ini sudah banyak berjasa, digunakan oleh pemiliknya untuk melindungi Rasulullah dari marabahaya...".
     

Senin, 08 November 2010

HEWAN KURBAN

        Kata Udhhiyah dan dhahiyah adalah nama hewan sembelihan seperti sapi, unta, dan kambing yang dipotong pada Hari Raya Nahar (Kurban) dan Tasyrik sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah SWT.
        Allah telah mensyariatkan Kurban, sebagaimana Firman-Nya:
"Sesungguhnya, kami telah  memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus dari rahmat Allah." (Al-Kautsar: 1-3).
"Dan unta-unta itu kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) ..." (Al-Hajj: 36)
        Sebuah riwayat dari Aisyah r.a, Nabi SAW telah bersabda :
"Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan Kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku-kukunya. Sesungguhnya sebelum darah Kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima disisi Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berKurban." (H.R  Tirmidzi)

Hewan Yang Boleh Dikurbankan
          Adapun hewan yang boleh dikurbankan adalah unta, sapi, dan kambing (domba). Selain tiga jenis hewan itu tidak dibenarkan. Sebagaimana firman Allah SWT:
"....agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak...."(Al-Hajj:34)

        Hewan kurban berupa domba yang dianggap layak adalah yang berumur setengah tahun, kambing berumur satu tahun, sapi berumur dua tahun, dan untu berumur lima tahun. Semua hewan itu tidak dibedakan apakah jantan atau betina, berdasarkan hal-hal sebagai berikut;
  1. Riwayat Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Hurairah, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Hewan kurban yang paling baik adalah 'Jadza' kambing." (Menurut Abu Hanafi Jdza adalah kambing/ domba yang telah berumur beberapa bulan . Sedangkan Imam syafi'i berpendapat bahwa kambing yang berumur satu tahun. Inilah yang paling shahih)
  2. Riwayat dari Uqbah bin Amir, ia berkata,"Aku bertanya kepada Rasulullah, 'Wahai Rasulullah saw, aku memiliki jadza'. Kemudian Rasullah menjawab, 'Berkurbanlah dengannya.'" (HR Bukhari Muslim).
  3. Riwayat Muslim dar Jabir bahwa Rasulullah bersabda, "Janganlah kalian berkurban kecuali yang telah berumur satu tahun keatas. Jika hal itu menyulitkanmu, maka sembelihlah yang jadza' kambing."
        Syarat hewan kurban adalah tidak cacat. Tidak dibolehkan berkurban dengan hewan cacat misalnya;
  1. Penyakit yang jelas terlihat.
  2. Picak matanya.
  3. Pincang sekali.
  4. Sum-sum tulangnya tidak kelihatan karena sangat kurus.Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah saw,"Empat jenis penyakit pada hewan kurban yang tidak layak yaitu hewan yang picak dengan jelas, dan yang sakit dan penyakitnya terlihat jelas, yang pincang sekali, dan yang kurus sekali." (HR Tirmidzi).
  5. Terdapat cacat; yaitu telinga atau tanduknya sebagian besar hilang.
     Cacat tambahan selain lima hal diatas adalah hatma (rontok seluruh gigi depan), ashma (kulit tanduk mengelupas), umya (buta), taula (tidak digembalakan/ liar), dan jarba (banyak kudis).
Hal-hal yang masih ditolerir adalah tak bersuara, buntutnya putus, bunting, dan tidak memiliki sebagian telinga dan sebagain bokongnya.
Menurut pendapat kalangan mazhab Syafi'i yang tersahih bahwa yang bokongnya teroutus dan kantong susunya tidak ada, maka tidak memenuhi syarat, karena hilang sebagian organ tubuh yang dapat dikonsumsi. Begitu pula halnya dengan ekor yang terputus.
Imam Syafi'i mengatakan, "Kami tidak menemukan hadits yang menyebutkan gigi sama sekali."

Disyaratkan bahwa hewan kurban tidak disembelih kecuali setelah terbit matahari pada hari Idul Adha hingga saat-saat pelaksanaan shalat Id. Setelah itu dibolehkan menyembelih kapanpun di hari yang tiga (hari Tasyriq) baik malam maupun siang. Setelah tiga hari itu, maka tidak dibenarkan penyembelihan hewan kurban. Sebagaimana Riwayat Barra r.a dari nabi saw, bahwa ia bersabda,
       "Sesungguhnya hal pertam yang kita lakukan pada hari ini (Hari Raya Id) adalah shalat, kemudian kembali dan memotong kurban. Barang siapa melakukan itu, berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barang siapa yang menyembelih sebelum itu, maka daging sembelihannya untuk keluarganya dan tidakdinilai sebagai ibadah kurban sama sekali."

        Jika orang yang berkurban memiliki kepandaian dalam menyembelih hewan, maka disunnahkan untuk melakukan sendiri untuknya. 
Apabila orang yang berkurban tidak memiliki kepandaian dalam menyembelih hewan, maka hendaknya ia menghadiri dan menyaksikan pada saat penyembelihannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, 
"Wahai Fatimah, bangun dan saksikanlah kurbanmu karena setiap tetes darah hewan kurban akan memohon ampunan dari setiap dosa yang telah kau lakukan. Dan bacalah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu baginya. Dan untuk itu aku diperintah. Aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri kepada Allah.' Seorang sahabat lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah ini untukmu dan keluargamu, atau untuk kaum muslimin secara umum?' Rasulullah menjawab, "Tidak, bahkan untuk kaum muslimin secara umum.'"

Wallahu 'Alam bissowaf.  Semoga bermanfaat.

Referensi : Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid 4, Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2007